Ternate, Delangiindonesia.com- Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Khairun (BEM FIB UNKHAIR) bersama Unit Kegiatan Mahasiswa Lembaga Kesenian dan Sastra (UKM LEKSAS) FIB UNKHAIR menggelar aksi refleksi bertajuk BERSASTRA: Menolak Lupa di Landmark Ternate, Sabtu (12/9).
Kegiatan ini menjadi ruang bersama untuk memperingati September Hitam sekaligus merawat ingatan kolektif atas berbagai peristiwa kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia yang pernah terjadi di Indonesia.
Mengambil ruang publik sebagai lokasi kegiatan, refleksi September Hitam disampaikan melalui pendekatan seni dan sastra. Pembacaan puisi, orasi reflektif, musik, serta berbagai ekspresi seni lainnya dipilih sebagai medium untuk menghadirkan kembali ingatan tentang korban, sekaligus mengajak masyarakat berdialog mengenai sejarah, kemanusiaan, dan keadilan.
Ketua BEM FIB UNKHAIR, M. Tamhier Tamrin, mengatakan bahwa September Hitam tidak boleh dipahami hanya sebagai agenda mengenang masa lalu, melainkan momentum untuk membaca sejarah secara kritis dan mempertanyakan keadilan yang hingga kini masih menyisakan pekerjaan rumah.
“Menolak lupa bukan sekadar mengingat bahwa sebuah peristiwa pernah terjadi. Kita perlu mengingat korban, membaca konteks peristiwanya, dan mempertanyakan persoalan keadilan yang masih menyertainya. Menjaga ingatan adalah bagian dari tanggung jawab kemanusiaan,” ujar Tamhier.
Ia menambahkan bahwa mahasiswa memiliki tanggung jawab intelektual untuk memastikan isu-isu kemanusiaan tetap hidup dalam ruang publik. Menurutnya, seni dan sastra menjadi salah satu cara yang mampu menjangkau masyarakat lebih luas, tidak hanya melalui diskusi akademik, tetapi juga lewat bahasa yang menyentuh pengalaman dan empati.
Sementara itu, Ketua Umum UKM LEKSAS FIB UNKHAIR, M. Ilham Almadani, menilai seni memiliki peran penting dalam menyampaikan pesan-pesan sosial dan kemanusiaan.
“Seni tidak hanya berbicara tentang keindahan, tetapi juga tentang apa yang terjadi di sekitar kita. Melalui puisi dan ekspresi seni, kita dapat menyampaikan ingatan, keresahan, dan sikap terhadap persoalan kemanusiaan dengan cara yang lebih reflektif,” kata Ilham.
Kolaborasi BEM FIB UNKHAIR dan LEKSAS menghadirkan Landmark Ternate sebagai ruang kebudayaan sekaligus ruang ingatan. Berbagai penampilan sastra dan refleksi yang dibawakan selama kegiatan mengajak masyarakat untuk tidak memutus hubungan dengan sejarah, terutama terhadap berbagai peristiwa yang meninggalkan luka bagi banyak korban dan keluarganya.
Melalui BERSASTRA: Menolak Lupa, BEM FIB UNKHAIR bersama UKM LEKSAS menegaskan komitmen untuk terus merawat ingatan kolektif sebagai bagian dari tanggung jawab moral dan intelektual. Mereka berharap ingatan terhadap korban tidak hilang dari sejarah, sementara tuntutan akan keadilan tetap menjadi bagian dari kesadaran publik dan generasi muda.

Tinggalkan Balasan