Moti, Delangiindonesia.com – Keterbatasan transportasi laut kembali menjadi sorotan dalam pelayanan kesehatan di wilayah kepulauan. Seorang warga Kelurahan Tafamutu, Kecamatan Pulau Moti, Kota Ternate, Mahmud Harun, meninggal dunia di Puskesmas Perawatan Moti setelah menunggu berjam-jam untuk mendapatkan transportasi menuju rumah sakit rujukan.
Mahmud sebelumnya dibawa keluarganya ke Puskesmas Perawatan Moti pada Rabu (05/08/2026) dengan keluhan pembengkakan pada kaki kanan.
Setelah menjalani pemeriksaan dan mendapatkan penanganan awal, tenaga medis kemudian merencanakan rujukan ke Rumah Sakit Darma Ibu Ternate sekitar pukul 08.30 WIT.
Namun, proses evakuasi pasien tidak dapat segera dilakukan karena keterbatasan ambulans laut. Mahmud bersama keluarganya harus menunggu hingga lebih dari 10 jam untuk mendapatkan transportasi menuju fasilitas kesehatan lanjutan.
Hingga sore hari, ambulans laut yang diharapkan belum tiba. Mahmud kemudian meninggal dunia di Puskesmas Perawatan Moti sekitar pukul 17.15 WIT.
Peristiwa tersebut kembali menyoroti tantangan pelayanan kesehatan di wilayah kepulauan yang memiliki keterbatasan akses transportasi menuju fasilitas kesehatan rujukan.
Pemerhati hukum Muis Ade meminta Pemerintah Kota Ternate memberikan penjelasan mengenai keterlambatan proses evakuasi pasien tersebut.
Menurut Muis, ketika seorang pasien telah dinyatakan membutuhkan rujukan, pemerintah dan fasilitas kesehatan harus memastikan proses pemindahan pasien berjalan cepat dan sesuai kebutuhan medis.
“Pasien sudah direncanakan dirujuk sejak pukul 08.30 WIT. Mengapa sampai sore hari Ambulans Laut tak kunjung tiba untuk evakuasi pasien? Pemerintah harus memberikan penjelasan kepada keluarga dan masyarakat,” kata Muis.
Ia menilai persoalan tersebut perlu dilihat secara menyeluruh. Evaluasi tidak hanya menyangkut jumlah ambulans laut, tetapi juga kesiapan armada, mekanisme pemanggilan, waktu respons, serta koordinasi antara petugas kesehatan dan pihak yang menangani transportasi laut.
Muis juga mendesak Pemerintah Kota Ternate, khususnya Dinas Kesehatan, melakukan evaluasi terhadap sistem rujukan kesehatan di Pulau Moti.
Menurut dia, masyarakat di wilayah kepulauan memiliki tantangan berbeda dalam memperoleh pelayanan kesehatan dibandingkan masyarakat yang tinggal di wilayah daratan.
Ia meminta pemerintah menyampaikan klarifikasi secara terbuka kepada keluarga almarhum dan masyarakat Pulau Moti. Selain itu, pemerintah didorong segera mengambil langkah konkret untuk memperbaiki layanan ambulans laut dan memastikan ketersediaan transportasi bagi pasien yang membutuhkan penanganan lanjutan.
“Ini bukan hanya persoalan satu keluarga. Ini menyangkut sistem pelayanan publik dan keselamatan masyarakat Pulau Moti,” ujarnya.
Muis mengatakan akan mendorong masyarakat Moti menyampaikan aspirasi apabila pemerintah tidak memberikan penjelasan dan langkah perbaikan dalam waktu yang telah diminta.
Di sisi lain, ia menyampaikan belasungkawa kepada keluarga Mahmud Harun. Ia berharap keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan.
Kasus tersebut menjadi pengingat bahwa akses terhadap pelayanan kesehatan di wilayah kepulauan tidak dapat dipisahkan dari ketersediaan transportasi.
Dalam kondisi yang membutuhkan rujukan segera, waktu tempuh dan kecepatan evakuasi menjadi bagian penting dari keselamatan pasien.
Masyarakat kini menunggu penjelasan Pemerintah Kota Ternate mengenai penyebab keterlambatan ambulans laut serta langkah yang akan dilakukan untuk memastikan kejadian serupa tidak kembali terjadi di Pulau Moti maupun wilayah kepulauan lainnya.

Tinggalkan Balasan