Ternate, Delangiindonesia.com-  Memasuki usia ke-27 tahun, saya melihat Maluku Utara berada pada sebuah persimpangan penting dalam menentukan arah pembangunan daerah. Di satu sisi, kita patut berbangga dengan pertumbuhan ekonomi yang begitu tinggi. Namun, di sisi lain, saya merasa ada pertanyaan mendasar yang belum sepenuhnya terjawab. Sejauh mana pertumbuhan tersebut telah menciptakan perubahan nyata bagi kehidupan masyarakat, khususnya melalui sektor pariwisata?

Bagi saya, 27 tahun bukan lagi usia untuk terus berbicara tentang betapa indahnya Maluku Utara, betapa kayanya sejarah rempah kita, atau betapa besarnya potensi wisata bahari yang kita miliki. Semua itu sudah terlalu sering kita dengar. Persoalannya sekarang adalah bagaimana kekayaan tersebut benar-benar menjadi kekuatan ekonomi yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat tanpa mengorbankan lingkungan dan identitas budaya kita.

Berdasarkan data BPS, pertumbuhan ekonomi Maluku Utara pada 2025 mencapai 34,17 persen, terutama ditopang industri pengolahan dan hilirisasi mineral. Sementara itu, indikator kontribusi PDRB pariwisata yang dipublikasikan melalui Satu Data Maluku Utara tercatat sebesar 0,18 persen pada 2025, dibandingkan 0,22 persen pada tahun sebelumnya.

Saya memahami bahwa indikator tersebut belum menggambarkan keseluruhan kontribusi ekonomi pariwisata. Namun, angka ini tetap menjadi bahan refleksi mengenai posisi pariwisata dalam struktur pembangunan daerah.

Kita memiliki pertumbuhan ekonomi yang luar biasa, tetapi apakah kita juga sedang membangun fondasi ekonomi yang kuat ketika sumber daya ekstraktif suatu saat tidak lagi menjadi penggerak utama?

Pertanyaan inilah yang menurut saya perlu mulai dijawab melalui perubahan paradigma pembangunan.

Selama ini, saya melihat pariwisata Maluku Utara masih terlalu sering ditempatkan dalam kerangka promosi. Kita menyelenggarakan festival, mengikuti pameran, memperkenalkan destinasi, dan membangun narasi tentang keindahan alam. Tentu semua itu penting. Tetapi pariwisata tidak boleh berhenti pada seberapa banyak kegiatan yang berhasil dilaksanakan atau seberapa sering destinasi kita tampil dalam materi promosi.

Pariwisata harus mampu menciptakan nilai tambah ekonomi, membuka lapangan pekerjaan, memperkuat usaha masyarakat, dan menjaga kualitas lingkungan yang menjadi fondasi kehidupan masyarakat kepulauan.

Karena itu, saya ingin menawarkan satu gagasan yang menurut saya relevan bagi masa depan Maluku Utara, yaitu menjadikan pariwisata regeneratif sebagai salah satu arah transformasi pembangunan pariwisata daerah.

Dari Pariwisata Berkelanjutan Menuju Pariwisata Regeneratif

Dalam pandangan saya, sudah saatnya kita mulai melampaui cara berpikir bahwa keberhasilan pariwisata cukup diukur dari kemampuan mempertahankan kondisi destinasi agar tidak semakin rusak.

Konsep pariwisata berkelanjutan tetap penting sebagai fondasi. Namun, pendekatan regeneratif menawarkan orientasi yang lebih jauh, yaitu bagaimana aktivitas pariwisata dapat memberikan kontribusi nyata terhadap pemulihan ekosistem, penguatan kehidupan sosial budaya, dan peningkatan ketahanan ekonomi masyarakat lokal.

Artinya, pariwisata bukan sekadar hadir untuk menikmati keindahan suatu tempat, tetapi juga ikut memperbaiki kualitas tempat tersebut.

Saya membayangkan sebuah desa wisata di Maluku Utara yang tidak hanya menerima kunjungan wisatawan, tetapi juga mampu memulihkan kawasan pesisirnya, menjaga sumber air, menghidupkan kembali tradisi lokal, dan menciptakan usaha ekonomi yang dikelola langsung oleh masyarakat.

Dalam pendekatan ini, masyarakat bukan sekadar pekerja atau pelengkap atraksi wisata. Mereka harus menjadi pemilik kepentingan utama, pengambil keputusan, sekaligus pihak yang paling merasakan manfaat pembangunan.

Bagi saya, inilah esensi pariwisata regeneratif, destinasi tidak hanya berkembang karena pariwisata, tetapi menjadi lebih baik karena kehadiran pariwisata.

Maluku Utara Membutuhkan Model Pembangunan Pariwisata Kepulauan

Satu hal yang menurut saya perlu dipahami adalah bahwa Maluku Utara tidak dapat terus mengadopsi model pembangunan pariwisata daerah kontinental tanpa mempertimbangkan karakteristik geografisnya.

Kita adalah provinsi kepulauan. Laut bukan sekadar pemisah antardaerah, melainkan ruang kehidupan, jalur konektivitas, sumber penghidupan, dan bagian dari identitas masyarakat.

Karena itu, saya mengusulkan agar pembangunan pariwisata Maluku Utara mulai diarahkan melalui model pengembangan destinasi regeneratif berbasis sistem sosial-ekologis kepulauan.

Model ini menempatkan hubungan antara manusia, lingkungan, budaya, dan ekonomi sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

Sebagai langkah awal, saya melihat terdapat tiga pendekatan pengembangan yang dapat dipertimbangkan.

Pertama, menjadikan desa sebagai pusat transformasi pariwisata regeneratif.

Pemerintah daerah dapat memilih beberapa desa percontohan berdasarkan karakteristik ekosistem, kesiapan masyarakat, dan potensi ekonominya. Desa tersebut tidak harus langsung menjadi destinasi besar. Justru yang dibutuhkan adalah model kecil yang terencana, memiliki indikator keberhasilan, dan dapat direplikasi.

Di Halmahera Tengah dan Halmahera Timur, misalnya, desa-desa yang menghadapi tekanan industri ekstraktif dapat menjadi lokasi kajian dan percontohan pemulihan sosial-ekologis berbasis masyarakat.

Saya melihat kawasan seperti Sagea memiliki konteks yang penting untuk dikaji karena mempertemukan potensi bentang alam, kehidupan masyarakat, dan dinamika pembangunan industri. Pengembangan pariwisata di wilayah seperti ini harus didasarkan pada kajian daya dukung lingkungan, perlindungan sumber air, serta hak dan kebutuhan masyarakat setempat.

Pariwisata tentu tidak dapat menggantikan kewajiban pemulihan lingkungan oleh industri maupun pemerintah. Namun, melalui perencanaan yang tepat, pariwisata dapat menjadi bagian dari strategi diversifikasi ekonomi jangka panjang.

Kedua, membangun pariwisata yang menghidupkan kembali identitas budaya dan ekonomi lokal.

Ternate dan Tidore memiliki kekuatan sejarah yang sangat besar. Tetapi menurut saya, kekayaan sejarah rempah dan kesultanan tidak cukup hanya ditampilkan sebagai cerita masa lalu.

Kita perlu mengembangkan pengalaman wisata yang membuat sejarah tersebut tetap hidup dalam kehidupan masyarakat hari ini.

Wisata gastronomi berbasis pangan lokal, revitalisasi lanskap sejarah rempah, penguatan kerajinan tradisional, serta keterlibatan generasi muda sebagai pelaku ekonomi kreatif merupakan beberapa bentuk transformasi yang dapat dilakukan.

Saya ingin melihat suatu saat wisatawan datang ke Ternate bukan hanya untuk mengabadikan moment dengan latar Gunung Gamalama, tetapi juga untuk memahami sejarah rempah, mengenal pengetahuan lokal masyarakat, menikmati kuliner tradisional, dan memberikan manfaat ekonomi langsung kepada komunitas yang menjaga warisan tersebut.

Ketiga, menjadikan pariwisata bahari sebagai instrumen konservasi dan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Morotai dan berbagai wilayah pesisir Maluku Utara memiliki peluang untuk mengembangkan pariwisata bahari yang lebih bertanggung jawab. Namun, saya tidak ingin kita mengulangi kesalahan sejumlah destinasi yang berkembang secara ekonomi tetapi justru mengalami tekanan ekologis akibat pembangunan yang tidak terkendali.

Pengembangan wisata bahari perlu dihubungkan dengan perlindungan terumbu karang, rehabilitasi mangrove, pengelolaan sampah, dan penguatan usaha masyarakat nelayan.

Wisatawan yang datang seharusnya tidak hanya meninggalkan pengeluaran ekonomi, tetapi juga berkontribusi terhadap upaya konservasi melalui mekanisme yang transparan dan dapat dipertanggungjawabkan.

Dari Gagasan Menuju Kebijakan yang Terukur

Saya menyadari bahwa gagasan pariwisata regeneratif tidak boleh berhenti sebagai konsep akademik atau istilah baru yang terdengar menarik.

Justru tantangan terbesarnya adalah bagaimana menerjemahkan gagasan tersebut ke dalam kebijakan pembangunan daerah yang realistis.

Karena itu, saya mendorong pemerintah provinsi bersama pemerintah kabupaten dan kota untuk mulai menyusun peta jalan transformasi pariwisata regeneratif Maluku Utara.

Peta jalan tersebut perlu diawali dengan pemetaan kondisi sosial-ekologis destinasi, penentuan desa percontohan, penguatan kapasitas masyarakat, integrasi konektivitas antarpulau, serta pembentukan kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan komunitas lokal.

Saya juga berpandangan bahwa ukuran keberhasilan pariwisata harus mulai diperluas.

Kita tidak cukup hanya menghitung jumlah kunjungan wisatawan atau banyaknya festival yang diselenggarakan. Kita perlu mengetahui berapa besar pendapatan yang benar-benar tinggal di masyarakat, berapa banyak usaha lokal yang tumbuh, apakah kualitas lingkungan membaik, dan apakah generasi muda memiliki kesempatan ekonomi yang lebih baik.

Tanpa indikator yang jelas, regeneratif hanya akan menjadi jargon baru dalam pembangunan pariwisata.

Saya percaya Maluku Utara memiliki peluang untuk mengembangkan pendekatan ini karena karakter wilayah kepulauannya menawarkan hubungan yang sangat erat antara ekosistem, kebudayaan, dan kehidupan masyarakat. Namun, peluang tersebut hanya dapat diwujudkan apabila pariwisata dipandang sebagai bagian dari strategi pembangunan jangka panjang, bukan sekadar urusan promosi destinasi.

Tumbuhnya Harus Terasa, Termasuk Melalui Pariwisata

Di usia ke-27 ini, saya ingin memaknai tagline Maluku Utara, “Tumbuhnya Harus Terasa,” secara lebih mendalam.

Bagi saya, pertumbuhan tidak cukup hanya terlihat dalam angka statistik. Pertumbuhan harus hadir dalam kehidupan masyarakat yang selama ini menjadi bagian dari kekayaan daerah.

Pertumbuhan harus terasa bagi nelayan yang menjaga lautnya, petani yang merawat tanahnya, perempuan yang mengembangkan usaha lokal, pelaku UMKM yang mempertahankan produk tradisional, serta generasi muda yang ingin membangun masa depan tanpa harus meninggalkan daerahnya.

Saya tidak sedang mengatakan bahwa pariwisata harus menggantikan industri pertambangan sebagai penggerak ekonomi Maluku Utara. Tetapi saya ingin menegaskan bahwa daerah ini membutuhkan fondasi ekonomi yang lebih beragam, tangguh, dan tidak sepenuhnya bergantung pada eksploitasi sumber daya alam yang terbatas.

Pariwisata regeneratif dapat menjadi salah satu jalan menuju masa depan tersebut, sepanjang dikembangkan berdasarkan kebutuhan masyarakat, karakteristik wilayah, dan tanggung jawab ekologis.

Sebagai Mahasiswa Progrm Doktoral pariwisata Universitas Udayana sekaligus anak daerah Maluku Utara, saya berharap gagasan ini dapat menjadi ruang diskusi bersama, bukan hanya di lingkungan akademik, tetapi juga dalam proses perumusan kebijakan pembangunan daerah.

Saya ingin melihat Maluku Utara tidak hanya dikenal sebagai provinsi dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, tetapi juga sebagai wilayah kepulauan yang berhasil membangun keseimbangan antara kemajuan ekonomi, kelestarian lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat.

Dua puluh tujuh tahun sudah cukup bagi kita untuk terus membanggakan potensi. Kini saatnya membuktikan bahwa potensi tersebut mampu menghasilkan transformasi.

Bagi saya, masa depan pariwisata Maluku Utara bukan sekadar tentang mendatangkan lebih banyak wisatawan, melainkan tentang bagaimana kehadiran pariwisata mampu meninggalkan lingkungan yang lebih sehat, budaya yang lebih hidup, dan masyarakat yang lebih sejahtera.

Itulah gagasan yang ingin saya titipkan pada momentum 27 tahun Provinsi Maluku Utara.

Selamat Hari Ulang Tahun ke-27 Provinsi Maluku Utara.

Semoga ke depan, kita tidak hanya merayakan pertumbuhan, tetapi benar-benar merasakan perubahan. Sebab, pariwisata yang berhasil bukan hanya pariwisata yang mampu menarik orang untuk datang, melainkan juga yang membuat masyarakat setempat memiliki alasan lebih kuat untuk tetap tinggal, menjaga, dan membangun tanah kelahirannya.

Penulis | Mega Sukma founder by Dream of Malut & Mahasiswa Program Doktor Pariwisata, Universitas Udayana

Delangi Indonesia.com
Editor
Delangi Indonesia.com
Reporter