Ternate, Delangiindonesia.com- Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Maluku Utara masih menghadapi kendala. Kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah membuat jarak pandang terbatas sehingga menghambat pelaksanaan water bombing dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah daerah lantaran operasi pemadaman melalui udara membutuhkan kondisi cuaca dan jarak pandang yang aman. Kabut asap yang cukup tebal membuat pergerakan pesawat untuk melakukan pemadaman belum dapat berjalan secara maksimal.
Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, mengatakan kondisi kabut asap yang menyelimuti wilayah Maluku Utara tidak sepenuhnya berasal dari kebakaran yang terjadi di daerah tersebut. Menurutnya, terdapat pula asap kiriman dari Papua yang turut memengaruhi kondisi udara di Maluku Utara.
“Bukan hanya dari Maluku Utara, ada juga asap kiriman dari Papua. Kondisi ini tentu menjadi tantangan dalam penanganan karhutla,” ujar Sherly.
Pemerintah daerah, kata dia, terus melakukan koordinasi dengan pemerintah pusat untuk memperkuat penanganan karhutla. Dukungan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) diharapkan dapat membantu pemerintah daerah dalam pengerahan armada pemadam maupun langkah lain untuk mempercepat pengendalian kebakaran.
Namun, upaya pemadaman dari udara tetap harus mempertimbangkan faktor keselamatan. Jarak pandang yang terbatas akibat kabut asap menjadi salah satu kendala utama yang harus diperhatikan sebelum water bombing maupun operasi udara lainnya dilakukan.
Sebelumnya, hujan yang mengguyur sejumlah wilayah Maluku Utara pada 12–13 Oktober 2026 sempat membantu menekan sejumlah titik panas. Meski demikian, hujan tersebut belum dapat menjadi jaminan bahwa seluruh titik kebakaran telah padam.
Karena itu, pemantauan terhadap titik api masih perlu dilakukan secara berkelanjutan. Pemerintah bersama instansi terkait juga terus melakukan koordinasi untuk memastikan titik kebakaran dapat segera ditangani dan tidak meluas ke kawasan lainnya.
Dampak karhutla tidak hanya dirasakan dari sisi lingkungan. Kabut asap juga berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat, aktivitas transportasi, termasuk penerbangan, serta kegiatan ekonomi warga.
Kondisi tersebut membuat penanganan karhutla membutuhkan kerja bersama dan respons yang cepat. Pemerintah daerah diharapkan dapat memaksimalkan seluruh sumber daya yang tersedia sembari menunggu kondisi cuaca memungkinkan untuk pelaksanaan operasi pemadaman dari udara.
Masyarakat juga diimbau meningkatkan kewaspadaan dan tidak melakukan aktivitas pembakaran lahan yang berpotensi memicu kebakaran baru. Warga yang menemukan titik api diminta segera melaporkannya kepada petugas agar dapat ditangani sedini mungkin.
Di tengah kondisi kabut asap yang masih menjadi kendala, pemerintah berharap cuaca segera membaik sehingga water bombing dan langkah penanganan lainnya dapat dilakukan secara optimal.
Penanganan karhutla di Maluku Utara dinilai tidak cukup hanya mengandalkan pemadaman ketika api telah membesar. Pemantauan titik api, pencegahan, koordinasi lintas instansi, serta keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting untuk memastikan kebakaran tidak kembali meluas.




Tinggalkan Balasan