Sofifi, Delangiindonesia.com- Pelaksanaan Road Race Piala Gubernur Maluku Utara dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Pemerintah Provinsi Maluku Utara menuai kritik dari peserta dan komunitas otomotif.
Kritik terutama terkait hadiah dan trofi yang disebut tidak sesuai komitmen serta penggunaan juri yang dipersoalkan lisensinya, Minggu (04/10).
Event yang digelar pada 2 hingga 4 Oktober tersebut dinilai seharusnya menjadi ajang pesta rakyat sekaligus wadah pembinaan prestasi pembalap daerah. Namun, menurut salah satu manager tim peserta yang meminta identitasnya tidak dicantumkan, pelaksanaan event justru menimbulkan kekecewaan karena adanya persoalan yang dinilai berkaitan dengan manajemen dan transparansi penyelenggara.
Dua persoalan menjadi sorotan peserta. Pertama, terkait hadiah dan trofi. Panitia disebut diduga tidak memberikan hadiah uang tunai maupun trofi sesuai dengan yang dijanjikan dalam regulasi awal atau brosur perlombaan.
Kondisi tersebut dinilai merugikan pembalap yang telah mengeluarkan biaya untuk persiapan kendaraan, akomodasi, hingga biaya pendaftaran.
Kedua, peserta mempersoalkan penggunaan juri atau pengawas perlombaan yang disebut tidak memiliki lisensi resmi dari Ikatan Motor Indonesia (IMI).
Menurut narasumber, persoalan lisensi tersebut perlu mendapat perhatian karena menyangkut profesionalitas penyelenggaraan serta keputusan-keputusan selama perlombaan.
“Sangat disayangkan, ajang bergengsi yang membawa nama besar Pemerintah Provinsi Maluku Utara ini justru terkesan dilaksanakan tanpa persiapan matang dan tidak mematuhi standar baku olahraga otomotif nasional,” ujar narasumber.
“Kami sangat kecewa. Membawa momentum hari jadi Pemprov, harusnya event ini menjadi barometer kompetisi yang sehat dan profesional. Namun, dengan adanya juri tanpa lisensi serta hadiah yang tidak sesuai, marwah olahraga balap motor di provinsi ini telah dicoreng,” lanjutnya.
Ia mengatakan, peserta dan komunitas otomotif berharap pihak penyelenggara memberikan klarifikasi secara terbuka terkait persoalan yang muncul selama pelaksanaan event.
Komunitas dan para peserta juga mendesak penyelenggara mempertanggungjawabkan hak-hak pembalap yang dinilai dirugikan serta meminta Pemerintah Provinsi Maluku Utara mengevaluasi kinerja panitia pelaksana.
Event tersebut turut diikuti tim dari berbagai daerah, di antaranya Ambon, Manado, Makassar, Jawa Timur, Jawa Barat, dan Sumatra. Ajang ini juga turut diramaikan pembalap Asia serta pembalap nasional yang telah memiliki rekam jejak di dunia balap motor.
Adapun jumlah peserta yang ikut ambil bagian sekitar 100 pembalap dengan jumlah stater sebanyak 305 dari 40 tim.
Dengan anggaran sebesar Rp576 juta, balap motor kali ini dibagi ke dalam dua kategori, yaitu road race dan drag bike. Adapun total uang pendaftaran dari peserta sebanyak Rp183 juta dari 305 stater.




Tinggalkan Balasan